Memotret dan Menulis

Gue coba awali dengan cerita dulu ya.

Sebelum menyukai dunia motret memotret, awalnya gue pribadi menyukai menulis. Tahun 2012, gue selalu membuka blog tiap minggu, dan memikirkan apa yang harus gue tulis untuk minggu itu. Gue membiarkan pikiran dan hati bekerja untuk menghasilkan sebuah tulisan. Tapi karena itu juga, blog gue jadi ngalor ngidul. Karena terkadang minggu pertama gue nulis soal percintaan, minggu selanjutnya soal kebangsaan Indonesia. Betapa random nya.

Seiring berjalannya waktu, gue belajar tentang literasi. Mulai dari pembuatan alur cerpen, novel, sampai puisi gue coba pelajari. Dan sampai pada tahun 2014, gue berhasil memuat karya puisi di sebuah buku. Cukup membanggakan, karena nama gue ditulis di bagan "Ditulis oleh". Boleh lah menyebut diri sebagai penulis, hehe.

Sekarang, gue masih tetap menulis. Di blog yang sama, namun dengan gaya yang berbeda. Eh, beda ga ya...

Lalu...

Image source: https://s8.favim.com/610/72/Favim.com-book-camera-cute-film-703542.jpg

Pada saat itu, gue membaca sebuah photobook di salah satu toko kamera. Foto yang dihasilkan bermacam macam dan bagus. Lalu saat gue mencapai halaman pertengahan, ternyata bukan hanya foto, tetapi juga terlampir sebuah cerita. Cerita yang dibuat berdasarkan foto tersebut. Hal ini yang membuat buku tersebut terlihat lebih menarik.

Dan seketika gue teringat, bahwa juga ada banyak akun di Instagram yang serupa seperti photobook yang gue baca. Salah satu contoh favorit gue pribadi adalah akun humansofny (Humans of New York). Akun tersebut seringkali menghiasi feeds pengikutnya dengan foto penduduk kota New York, dan ditambah dengan cerita yang menarik.

Ini adalah salah satu contoh post nya.

“My husband had a sudden heart attack a few months ago. It was just a few blocks from here. They called me in to identify his body and then just let me walk right out onto 7th Avenue. I felt so lost. My friends were wonderful and supportive but eventually everyone moves on with their lives. I don’t have children. And I’m not a workaholic. So I was left with this intense loneliness and void. I couldn’t eat. I couldn’t sleep. Then one day I started researching dogs that are good for grief and depression. And ‘poodle’ kept popping up. But when I went to the rescue fair, all the poodles were gone. There was this one old dog in the back that nobody was looking at. She was skin and bones. She was trembling and scared and mucus was running out of her eyes. She seemed so fragile. She reminded me of myself. I named her Grace because I think my husband sent her to me. She’s my first dog. She’s been pure joy. We spend all our time together. She’s gained her weight back. She comes with me to therapy. We’re getting better together.”
A post shared by Humans of New York (@humansofny) on


Jadi bagi gue untuk memperkuat sebuah foto, bisa dilakukan juga dengan menambah sebuah cerita di dalam nya. Tidak selalu tentang editing. Bagi gue (atau mungkin kalian juga), itu bisa menjadi nilai tambah yang menarik, dan membuat foto tersebut menjadi terlihat berbeda dengan yang lain.

Berarti selain kemampuan editing, kemampuan menulis juga diperlukan seorang fotografer untuk membuat foto nya lebih menarik. Toh bukan cuma fotografer, tapi semua profesi juga perlu kemampuan tersebut. Nampaknya memang menulis menjadi kemampuan wajib seseorang. Atau memang iya?


Dan bagaimana denganmu, apakah kamu juga pernah membuat cerita dari sebuah foto yang kamu ambil. Bisa ceritakan di kolom komentar agar pembaca yang lain juga tahu apa yang masing masing kita rasakan. Tenang, jangan malu maluin.


And see you on the next post!

Komentar