Pengalaman Pertama Foto Model

Image source: http://kevincase.com/wp-content/uploads/2014/04/wpid1857-Day342-640x426.jpg

Mari kita awali dengan kutipan yang kita kenal lama semenjak SD...

Experience is the best teacher
Kalo ga pernah denger kutipan ini, mungkin waktu itu kalian tidak pernah memakai buku dari merk Sinar Dunia. Tapi tidak apa apa, karena post ini tidak belum diendorse oleh brand tersebut.

Gue masih inget pengalaman pertama buat fotoin model. Untuk pertama kalinya dalam hidup terjun ke dunia para fotografer, tentu deg-deg an. Sebelum pemotretan hari H, gue baca lagi hal hal yang dilakukan saat sesi photoshoot. Dari beberapa hal yang gue pelajari, yang selalu disebutkan: attitude. Ini berarti gue harus menjaga sikap selama sesi pemotretan.



Berbekal kamera dan lensa 50mm, gue melangkah berani menuju tempat pemotretan. Waktu itu diadakan di salah satu cafe sekitaran Dago, Bandung.

Saat sampai, sesi photoshoot belum dimulai. Para model masih sibuk dengan make up artist nya, dan para mas mas dan om om fotografer menunggu duduk sambil berbincang. Rata rata dari mereka sudah kenal satu sama lain. Sementara gue? Gue hanya duduk di bangku di pojokan, sambil sibuk bermain HP.

Karena rasanya agak canggung untuk mulai berbicara dengan mas mas (apalagi om om) yang lebih tua dari gue. Percayalah.

Melihat dari kamera dan lensa yang mereka pakai, gue hanya bisa bengong. Rata rata lebih mantep dari punya gue. Dan salah satu lensa yang gue kagum, Nikkor 100mm f/2,8. Buset, dengan focal length sepanjang itu, ga perlu lagi buat dempet dempetan sama yang 50mm. Tapi gue tetep inget kata kata man behind the gun. Ya walaupun gue yakin dia lebih berpengalaman daripada gue sih.

Setelah beberapa menit menunggu, model udah siap buat difoto.

Model #1
Para fotografer langsung mengarahkan model tersebut. Dari sini, suasana sudah mulai mencair antara fotografer dan model. Mereka mulai mengarahkan bagaimana model untuk berpose. Setelah diarahkan, baru siap difoto. Gue mengikuti arahan dari fotografer lain. Dan juga hanya mengikuti pergerakan mata sang model. Bila matanya menghadap lensa, langsung aja... Jepret!

Di model pertama, gue masih agak kaku untuk menyesuaikan. Gue masih belum menemukan settingan yang cocok, karena waktu itu hanya mengandalkan natural lighting yang cukup keras dari samping. Tapi lama kelamaan, feel nya dapet dengan sendirinya.

Dan yang harus diperhatikan saat memfoto adalah kamera orang lain. Karena ada banyak lensa di kanan kiri, gue harus berhati hati terhadap pergerakan. Jangan sampai tangan atau bagian tubuh gue menutupi lensa orang lain. Inilah salah satu attitude fotografi.

Dan model pertama ini cukup mudah untuk dipotret. Karena dia udah tahu bagaimana untuk bergaya. Selain itu juga, dress yang dipakai juga cantik, dan modelnya juga emang cantik. Maka cukup memudahkan gue yang pemula untuk motret.

Model #2
Model selanjutnya agak berbeda dengan model pertama. Model kedua agak sedikit lebih kaku, dan dia menggunakan hijab. Jadi agak susah bagi gue untuk menemukan 'kecantikan', karena bagi gue kecantikan wanita paling terlihat dari rambut dan juga pose. Tapi ga mungkin dong menyuruh sang model buat lepas hijab dulu. Apalagi berpose yang menunjukkan lekukan.

Maka dari sini gue sadar, bahwa fotografer tidak punya hak penuh buat meminta model melakukan ini itu. Kita juga harus menjaga dan menghormati privasi nya. Dengan kata lain, kita yang harus ngikutin bagaimana model tersebut. Tapi mereka juga mengikuti bagaimana panduan kita. Saling mengerti itu perlu.

Jadi di sesi kali ini gue lebih menerapkan permainan angle dari sisi sisi yang beda. Dengan gerakan model yang kaku, gue juga ga bisa meminta banyak. Takutnya sang model merasa ga enak. Jadi gue motret bagaimana dia berpose saja. Hasilnya ga terlalu mengecewakan.

Model #3
Model yang ini, pemotretannya dilakukan di luar ruangan. Cuaca yang bagus, dan sinar matahari tidak terlalu keras. Tempatnya berada di jembatan penyeberangan yang jarang dilewati oleh orang. Jadi tidak ada yang mengganggu.

Model yang ini lebih luwes, tapi tetap berhijab. Cukup mudah bagi gue untuk mengambil gambar yang bagus. Namun saat sedang melakukan foto...

"Sebentar, sebentar ya mas..."

Ada salah satu fotografer yang masuk kedalam frame. Gue menurunkan kamera dan melihat apa yang dia lakukan. Ternyata ada beberapa ikatan tali di pinggiran jembatan yang mengganggu dia untuk memfoto.

"Dibersihin dulu, biar ngeditnya ga capek. Hahaha" lugasnya sambil tertawa.

Bener juga sih. Dengan begitu, gue ga perlu capek capek lagi buat healing benda benda yang mengganggu saat post-pro nanti. Ini juga salah satu pelajaran baru yang gasempet gue baca baca di internet, kita harus peka terhadap apa yang ingin kita foto.

Akhirnya sesi foto kembali dilanjutkan. Seperti yang gue bilang tadi bahwa model cukup luwes buat bergaya walaupun memakai hijab. Jadi pemotretan berjalan mulus.

Model #4
Di model yang ini, pemotretannya di lakukan di tempat yang ga biasa. Ada salah satu dari om om tersebut yang berkata:

"Motret nya di tengah jalan aja yuk"

Cukup gila, dan membuat gue tertarik. Fotografer yang lain juga ikut setuju. Karena yang dimaksud di tengah jalan disini adalah di pembatas antara dua jalur mobil, dan tempatnya cukup luas. Sang model juga setuju untuk tempat tersebut.

Akhirnya sampai di tengah jalan. Agak lucu bila dilihat, sekumpulan orang untuk memfoto cewek cantik di tengah jalan. Apalagi dilihat oleh orang orang yang melintas. Tapi demi hasil yang bagus, kita emang harus totalitas, haha.

Modelnya juga terlihat sudah berpengalaman, jadi cukup memudahkan untuk mengambil foto. Dan model terakhir ini tidak menggunakan hijab, jadi cukup leluasa untuk mengatur pose dia. Tiap model punya kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Akhirnya asik foto selama kurang lebih lima jam, baterai kamera gue habis. Memang posisi nya selalu gue standby, dan dimatiin kalau lagi sesi pergantian baju saja. Padahal masih ada beberapa model lagi yang bisa difoto, namun baterai berkata lain.

Jadi begitulah sesi foto yang gue ikuti pertama kali. Cukup menyenangkan, dan juga membosankan. Menyenangkan karena kita bisa mengasah kemampuan dan menambah portofolio, bertemu dengan orang yang memiliki hobi yang sama, dan memetik banyak pembelajaran. Membosankan ketika harus menunggu para model untuk make up dan pembicaraan antara fotografer lain yang kadang kadang suka asik sendiri.

Tapi pengalaman pertama akan selalu terasa lebih menyenangkan, bukan?



Eh, kalian juga boleh untuk menuliskan pengalaman pertama memasuki dunia fotografi (motret model, job pertama, dll.) I'm very glad to read it. Tulis di bagian komentar dibawah ya.


And see you on the next post!

Komentar

  1. aku pengen banget loh jadi model
    sayang aku jelek pendek dan tidak fotogenik wkwkwk
    feel itu susah susah gampang ya dapetnya mas
    makanya aku sering liat model ambil foto dari pagi mpe sore dgn baju dan spot sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga tidak fotogenik, saya cuma hobi fotografi haha..

      Hapus

Posting Komentar

Sebelumnya terima kasih sudah membaca. Gue berharap kalian memberi komentar yang sopan. Ga harus sesuai EYD, kok. Yang pasti jangan pake bahasa 4L4Y, apalagi bahasa binary.

Yo'ciao~