Bangsa yang Jarang Membaca

Mulai bulan Juni 2016, gue mengurangi bacaan karya sastra bentuk novel romance, teenlit, dan yang serupa. Hal ini ga direncanakan sebelumnya, tapi gue merasa 'terlalu melankolis' bagi realita hidup.
Cinta-cintaan SMA yang terkesan lebay dan hiperekspose, cerita geng-geng an, atau yang biasa jadi favorit, badboy yang digandrungi para wanita.
Halah, kuno! Daripada dicetak dan dijadikan novel, mendingan dipahat dan dijadikan prasasti biar beda.

Gue mencoba mulai mengganti tema bacaan, yang lebih informatif dan menambah wawasan. Seperti buku autobiografi, sejarah, dan lainnya. Gue juga mulai membaca buku impor yang masih dalam bentuk bahasa Inggris. Baru baru ini gue beli buku 'Meeting People Around The World' Sudaryomo Hartosudarmo, dan 'Bedah Kamera' Sri Sadono. FYI, kalo beli buku impor, gue biasanya -selain di Gramedia- beli di Periplus di bandara bandara.

Dan perbedaan ini gue rasakan di toko buku.
Saat pergi ke Gramedia dan menuju rak buku autobiografi, tidak ada satupun orang yang seumuran dengan gue berdiri di display rak tersebut. Disana cuma ada bapak bapak yang membaca sembari menunggu istri belanja.
Dan ketika gue menuju rak buku impor, hanya ada dua atau tiga orang seumuran gue. Entah karena buku impor kurang up-to date, gue juga agak enggan kesana.


Banyak yang bilang kalau kurangnya minat menulis itu berbanding lurus dengan minat membaca kita sendiri. Karena kita tidak akan bisa menghasilkan sebuah tulisan yang bermutu kalau tidak membaca banyak. Juga hasil dari tulisan itu akan terasa membosankan karena kosa kata yang kurang diperkaya. Percaya deh.

Dan menurut UNESCO tahun 2015, minat membaca orang Indonesia berada pada angka 0,001% yang artinya dari 100.000 orang, hanya satu yang gemar membaca.

Sama rendahnya dengan negara Afrika. Padahal secara ekonomi di masyarakat, kita masih sangat berkecukupan untuk membeli sebuah buku. Atau kalau mau praktis, bisa pinjam di perpustakaan sekolah atau daerah.

Perbedaan yang lainnya adalah karena usia. Semakin senja usia seseorang, daya mengingat nya makin berkurang. Jadi, mumpung masih muda ya banyak banyakin aja baca buku. Ga harus selalu pelajaran, yang penting informatif buat bekal di masa depan.

Jadi gimana menurut pendapat kalian? Apakah kalian suka membaca buku selain dari novel? Tulis komentar dibawah, Dan tulis juga, apa kira kira solusi dari kalian untuk menaikkan minat membaca orang Indonesia.

Komentar

  1. Sebenarnya paling menikmati novel sih. Tapi buku pengetahuan boleh juga deh hehe

    BalasHapus
  2. Gue suka baca selain novel paling buku-buku referensi buat tugas akhir. Hahaha. Anyway, gue lebih prefer baca novel tapi yang bentuknya sejarah atau minimal ada topik-topik yang bisa gue ambil macem politik atau apalah. Jadi, sambil menyelam minum air. Bacanya terhibur, tapi maknanya dapet. Gitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semacam buku 'Bumi Manusia' nya Pramoedya Ananta Toer gitu ya? Haha

      Hapus
  3. aku suka novel krn membaca bagiku untuk menghilangkan stres shg cari yg ringan2 saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi jangan kebablasan jadi adiktif novel juga :D

      Hapus
  4. Iya benar banget, dilema di negeri sendiri. Gimana mau mau berkembang jika budaya malas membaca masih dipelihara

    BalasHapus
  5. Akhir-akhir ini lebih senang membaca buku non fiksi, karena saya dapat melihat cara pandang orang lain tentang sesuatu dan sekaligus membakar semangat untuk menjadi lebih baik, karena kebanyakan bersifat motivasi. Salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi lebih suka buku buku yang memberikan semangat ya. Hmm.. bagus juga :-bd.

      Hapus
  6. Saya baca jarang banget, tapi baru minggu kmrn saya baca novel Bunda Helvy :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Helvy Tiana Rosa? Gue pernah denger, cuma ga pernah baca karya nya.

      Hapus

Posting Komentar

Sebelumnya terima kasih sudah membaca. Gue berharap kalian memberi komentar yang sopan. Ga harus sesuai EYD, kok. Yang pasti jangan pake bahasa 4L4Y, apalagi bahasa binary.

Yo'ciao~