Sampai Tidak Berarti Apa apa Lagi

Satu bulan ini gue berhasil untuk produktif ngeblog. Ya, walaupun yang lihat nya sedikit, sampai kaga ada yang komentar, tapi gue senang bisa kembali menulis. Berbagi cerita, opini, atau kadang kadang nulis kaga jelas*.

Jujur, pengunjung blog gue per hari ga sampe 10 orang. Paling tinggi ya 67 orang, itu pun kalau gue promosi gara gara bikin post yang baru. Setelah hari itu, ya kembali turun. Hari ini, saat gue menulis ini, pengunjung blog gue cuma 2 orang dalam 24 jam. Tragis.

Kalau dilihat di tahun 2014 – 2015, pengunjung blog gue per hari bisa sampai 70 orang. Apalagi kalo bikin post baru, bisa hampir nyentuh 100 pengunjung, bro.

Pertanyaannya: Kenapa bisa menurun?

Kemungkinan utama, gue kelamaan vakum. Iya, gue pernah ga ngeblog sama sekali. Memang, waktu itu Instagram lagi naik daun. Orang orang sudah malas buat baca blog. Enakkan Instagram. Ada aplikasinya, tinggal modal scrolling, nunggu, dan udah ketawa. Gue juga begitu, sampai gue meninggalkan apa yang gue sebut ‘rumah’.

Maksudnya rumah itu blog gue. Metafora.

Dan kemungkinan kedua, gue berhenti menulis. Kesalahan fatal seorang penulis adalah ketika ia berhenti produktif. Alasan yang sering mucul adalah: Writer’s block. Awalnya gue mengira mengidap hambatan itu. Gue salah. Emang gue nya aja yang males.

Kunci kesukesan bagi gue adalah latihan.

Kalo pengen jadi vokalis favorit, ya latihan nyanyi.
Pengen jadi pesepakbola hebat, ya latihan sepakbola.
Pengen punya pacar, ya latihan memperbaiki diri.

Latihan, latihan, latihan. Terus berlatih, dan kita akan menjadi terbiasa. Terbiasa berlatih akan membuat kita sukses. Kalo belum sukses? Ya terus berlatih. Kalo sudah sukes? Masih tetap berlatih.

Sampai kapan berlatih melulu?
Sampai lo ga merasakan sukses lagi.

Ribet banget, bro..

Kenapa gue ngomong begitu?

Manusia gampang terlena. Contohnya gue, saat udah berhasil nerbitin satu buku doang, gue udah menganggap diri gue sukses. Gue termakan kata sukses yang gue peroleh, dan akibatnya, gue males buat nulis. Karena udah sukes.

Belum.
Gue belum sukses.

Coba untuk keras kepala kepada diri sendiri. Menurut gue, terkadang keras kepala itu perlu, biar kita ngga gampang nundukkin kepala. Tapi jangan jadi kebiasaan, bisa bisa nanti lo kena tonjok orang.
Jadi, terus teruslah berlatih sampai sukses tidak berarti apa apa lagi. Sadis.


*): Pantesan aja pengunjungnya dikit, nulis aja kaga jelas!

Komentar

  1. Mungkin masnya perlu banyakin makan 'mie sukses' yang isi dua mas. Hhe. Bagus tulisannya mas.

    BalasHapus
  2. Sama bro, gue juga habis fakum nge-blog, malah dari 2 tahun yang lalu dan baru sekarang ini rajin posting lagi.

    Btw, semangat ngeblognya. Mari sama-sama berjuang konsisten nge-blog (lagi). :)


    Mampir juga ke: http://diaryofdejavu.blogspot.co.id/2016/02/perbedaan-dunia-sekolah-dan-dunia-kuliah.html

    BalasHapus

Posting Komentar

Sebelumnya terima kasih sudah membaca. Gue berharap kalian memberi komentar yang sopan. Ga harus sesuai EYD, kok. Yang pasti jangan pake bahasa 4L4Y, apalagi bahasa binary.

Yo'ciao~