Masih Ada Orang Baik Di Jakarta


Be Kind

21 September 2015.

Sore hari di Pondok Kelapa, gue lagi di dalem angkot 29. Gue duduk bersama ibu dan anak anak perempuan dari berbagai sekolah. Alunan musik dangdut lawas mengiringi selama perjalanan. Saat itu, pikiran gue hanya pulang ke rumah dan tidur.

Bener bener gue ga tau harus ngapain selain ngomong ‘kiri bang’ saat sampai di tujuan nanti. Malah macet, lagi. Iseng, gue memperhatikan wajah wajah anak sekolah lain, kelihatan jelas lusuh -tak terkecuali muka gue-. Bukti untuk orang tua kalau mereka tekun selama di sekolah.

Di sebelah gue, ada ibu berkerudung cokelat dengan anaknya yang SD. ‘Di depan mobil putih, berhenti ya bang’ kata ibu yang gue tebak usianya masih sekitar 38. Anak itu merespon, ‘iya itu bang, mobil putih bang’. Gue tertawa kecil.
Saat mobil berhenti, anak itu menarik narik tangan ibunya supaya lekas turun. ‘Iya nak, sabar ya’ kata si ibu. Saat ibu itu turun, ia memberi ongkos dan diakhiri ‘Terima kasih ya, bang’. Waw, udah jarang orang ngomong terima kasih ya, kata diri gue dalam hati.

Sekarang di sebelah gue adalah cewek SMA. Berkacamata, rambut sedikit berantakan, dan dia memangku tas berwarna biru gelap dan putih kusam di bagian bawah.

3 meter, angkot sudah berhenti untuk transit penumpang.

Semua anak anak perempuan tersebut turun, kecuali satu orang ibu dan cewek SMA yang di samping gue. Beberapa lama saat tinggal kami bertiga, cewek itu mencolek tangan gua, katanya:

‘Tas lo bukan?’ katanya sambil menunjuk ransel kecil berwarna biru yang ada di bawah kaki kita.

Gue menggeleng.

Seketika gue sadar kalau anak si ibu berkerudung cokelat tadi tidak membawa tas.

Cewek SMA di samping gue langsung turun dari angkot, membayar ongkos, sambil membawa tas biru, lalu lari ke belakang. Saat mau turun, gue ga sengaja melihat nama ‘Ari’ di nametag cewek tersebut.

Dalam hati gue berminat ngikutin dia. Tapi entah kenapa gue ragu. Gue hanya melihat ke kaca belakang, dan berharap dia naik kembali angkot ini. Namun sepertinya tidak mungkin orang keluar masuk di angkot yang sama.

Ternyata masih ada orang baik di Jakarta, kata gue dalam benak.


Komentar

Posting Komentar

Sebelumnya terima kasih sudah membaca. Gue berharap kalian memberi komentar yang sopan. Ga harus sesuai EYD, kok. Yang pasti jangan pake bahasa 4L4Y, apalagi bahasa binary.

Yo'ciao~