Mau baca? Kepo. Nanti lu modusin gue, hehehe. Jangan baper ya.

Saat gue lagi bosen dan gatau pengen ngapain, gue buka aplikasi messenger dan coba ngobrol sama si Widya, kawan gue waktu di Rumah Sakit Bersalin 16 tahun lalu...

"Hai, Wid."
"Apa?"
"Lagi ngapain? Udah makan?"

"Kepo lu"

*

Pelajaran Seni Rupa. Tugasnya bikin baju dari koran bekas. Gue gasengaja liat kawan gue, Nissa, salah melakukan aksinya.

"Nis"
"Ya?"
"Itu lu motong korannya salah. Harusnya vertikal"
"Yahh.. terus gimana dong? Gue gapunya koran lagi"
"Nih, gue masih ada beberapa"

Dan cowo sekelas teriakkin gue,

"MODUSSS!!!"

*

Gue lagi ngetik cerita. Lagi asik asiknya nulis, tiba tiba ada notifikasi di hp. Gue read doang, karena isinya ga penting.

"Bill, like moment path gue dong" [R]
"Bil, like dongg" [R]
"Jahat ih!" [R]

Karena gaenak, gue ladenin dong.

"Apaan?"

"Dih, gitu aja  baper" [R]


Syuse.

Istilah istilah jaman sekarang bikin susah hidup bersosialisasi. Apapun yang tidak perlu, malah dibatasi. Pengen berbuat baik, parahnya dicurigain. Ga tahu situasi, berprasangka negatif (negatif: yang jelek, bukan celaka)
Kita semua mungkin pernah memakai kata kata itu. Minimal pernah denger. Kata kata yang merusak norma pergaulan kita. Kata kata yang bikin kita musuhan. Kata kata yang menghancurkan segalanya.

Segalanya...

Segalanya..........

Oke, ini mulai berlebihan.

Gue mengaku kalo pernah memakai kata kata diatas. Namun setelah selesai ngetik, gue gamau langsung pencet 'send'. "Kira kira gimana reaksi dia ya?"pikir gue. Apakah dia bakal ngambek, atau direspon positif.

Gue send.

Dan pada akhirnya kalau dia ngambek, gue berusaha untuk mencairkan suasana. Kadang kadang suka gue hapus lagi, sih. Hahahaha.

Gue mengaku kalo pernah nerima kata kata diatas. Respon gue, ya tergantung, kalo mood seneng ya ditanggapin positif. Kalo mood jelek, ya ngambek. Yang jadi masalah adalah apakah dia bisa mencairkan suasana kalo gue sedang dalam kondisi yang tidak diinginkan.

Intinya bukan kita harus pandai mencairkan suasana. Tapi hati hati dalam memilih kata. Kita kan gatau apa yang mereka rasakan, dan juga sebaliknya. Manusia dan rocker juga punya perasaan dan hati.



Dan ini salah satu kutipan dari Mahasiswa UGM, M Hibatur.

Sumber : Akun LINE M Hibatur R (twitter : @MHibaturR, LINE : mhibaturr)
Sampai pada akhirnya munculnya istilah "kepo", kita jadi kurang bisa menghargai rasa keingintahuan orang dan usaha untuk membuka obrolan.
Sampai pada akhirnya munculnya istilah "modus", kita jadi kurang bisa menghargai rasa ingin membantu atau menolong dr seseorang yg biasanya lawan jenis.
Sampai pada akhirnya munculnya istilah "galau", kita jadi kurang bisa menghargai ekspresi emosi seseorang yg biasanya dia tuangkan pada kata atau bahasa.
Sampai pada akhirnya munculnya istilah "baper", kita jadi kurang bisa menghargai perasaan orang lain yg mmg trkadang bisa muncul begitu mudahnya.
Apakah pergaulan kita akan terus menerus menggerus rasa saling menghargai kita ? Digunakan boleh, tapi seperlunya. Ingat situasi dan kondisi
Mari selamatkan norma pergaulan kita, kita Indonesia yg punya norma-norma

Ya, kayaknya cuma mau bahas itu aja sih. Sekian lama ga ngeblog, sekalinya dateng tulisannya bijak sekali. Hahaha, kan blog gue.

***

Btw, gue nulis ini terinspirasi dari HT Kaskus beberapa hari lalu. Gue juga memperhatikan belakangan ini banyak istilah yang membatasi pergaulan kita, dari sosmed hingga ke dunia nyata. Masalahnya sih keliatannya aja sepele, tapi kalo sampe menurun ke generasi selanjutnya, bisa berabe.


Emm, sorry about the title, hahaha.

Komentar