Memori Tentang Buku


Sebagai manusia pada umumnya, kita perlu hiburan. Entah itu menonton TV, main PlayStation, atau main sabun, emm…  gelembung sabun. Gue suka membaca untuk hiburan sekaligus mengisi waktu luang …dan waktu belajar Matematika. Bacaan gue bisa dari Koran, majalah, internet, tapi paling sering lewat buku. Dan contoh contoh buku tersebut antara lain:

Ehm…

Gue ga inget persis buku yang pertama kali dibeli. Tapi gue inget banget sama majalah Tom and Jerry. Karena disitulah pertama kalinya menemukan kata ‘lelucon’. Awalnya gue kira lelucon itu mercon, ternyata salah. Wajar, waktu itu masih kelas 2.
Di kelas 3, gue mengenal komik. Waktu itu, gue baca beragam komik, seperti Ninja Hattori, Doraemon, dan Crayon Shincan. Mungkin anak 90 an tahu kalau di pojok kanan cover komik Crayon Shincan terdapat tulisan tebal berwarna merah ‘untuk 15 tahun keatas’. Gue dewasa sebelum waktunya.
Kelas 5, gue mulai fokus membaca satu judul komik, Detektif Conan. Awal suka sama Conan gara gara nonton serialnya di salah satu saluran TV, lalu gue lihat di kamar kakak gue juga ada komik komik Conan. Gue baca di kamar, sekaligus minum teh manis. Dan waktu itu, ada sekitar 30 serial komik Conan yang gue punya. Artinya, lebih banyak dari buku pelajaran yang gue punya. Gue merasa ke-Sinichi Kudo-an tapi bego.
           
Semua itu berlanjut sampai gue kelas 8. Gue udah kenal dunia perbukuan. Buku yang pertama kali gue beli adalah “SKRIPSHIT: Kisah Sesat Mahasiswa Abadi” nya Alitt Alasan kenapa gue membeli, karena twitnya Alitt di akun @shitlicious bikin gue terpingkal. Dan karena buku ini, gue belajar banyak hal tentang kuliah (apa itu IPK, apa itu cumlaude, sepanjang apa bulu ketek Eva Arnaz), penulisan komedi, dan juga kehidupan.
Sampai sekarang, gue masih mengoleksi buku dan novel. Ada 16 buku, dan rata rata adalah buku fiksi komedi seperti Benabook, Relationshit, dan yang baru, Koala Kumal. Sisanya, ada buku dan novel romantic, sci-fi, inspirasi, dan masih banyak lagi.

Pada saat beresin kamar, gue lihat ada buku yang sudah usang. Ukurannya kecil, mirip buku album foto 4R. Saat gue baca, ternyata ini komik. Komik Detective Conan yang versi pertamanya.
Gue melihat rak buku novel gue. Memori gue terbuka kembali, tentang buku.

Gue sadar, seiring tumbuh kembangnya seseorang, maka berbeda juga jenis bacaannya. Gue yang awalnya suka kartun fable, berganti menjadi kartun fiksi animasi, kemudian kartun manga. Gue meninggalkan komik, beralih ke cerita cerita nyata.
Gue coba tanya ke nyokap, mana buku komik komik Detective Conan. Beliau jawab udah dikasih sama sepupu gue. Gue bersyukur, setidaknya tidak diberikan ke tukang loak atau orang tidak dikenal.

Gue lepas gagang sapu, mengambil teh manis di dapur, dan membaca komik Detective Conan ke-39.


Seperti lima tahun lalu.

Komentar

  1. Azik keren, bener sih, dulu saya nggak suka baca, tapi setelah SMA saya jadi suka baca-baca buku komedi gitu, hebat kan ? haha. sekarang saya jadi suka baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentarnya mirip testimoni obat obat gitu ya... .-.

      Hapus
  2. Gue juga berubah. Disaat gue baca benabook. Dulu gue gak ngerti buku komedi. Lama-lama gue ngerti. Sampe akhirnya gue suka menulis. Sampe buat laptop.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari komedi sampe menulis, dan akhirnya buat laptop?

      Buset...

      Hapus
  3. ternyata yang ceritanya sehari-hari banget lebih digilai ya sekarang ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya tergantung selera sih, mbak.

      Hapus
  4. Kalo gue dulu suka baca komik Naruto sama Powerpuff Girls, dan sekarang jadi novel..

    BalasHapus
  5. Aku uda lama ngga beli buku.. Masih banyak yang numpuk nih, belom sempet kebaca.. :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Sebelumnya terima kasih sudah membaca. Gue berharap kalian memberi komentar yang sopan. Ga harus sesuai EYD, kok. Yang pasti jangan pake bahasa 4L4Y, apalagi bahasa binary.

Yo'ciao~