Cerita Klise

            Masih ingat, kita kumpul bersama dan duduk secara lesehan di sebuah restoran. Ada aku, Okky, Joshua, Greetha, dan kamu, Debora. Awalnya hanya terjadi obrolan obrolan ringan seputar sekolah, aktivitas, dan hal seru lainnya. Sampai akhirnya sebuah lagu mengalun…

“Kita, adalah sepasang sepatu…”

Percayalah, waktu itu aku langsung memikirkanmu.

            Kadang terlintas juga di benakku, mengapa kita bisa selalu bersama tapi tidak diciptakan untuk bersatu? Aku mengalihkan pandangan ke Okky dan Greetha, sedang berromantisan, Joshua? Dia memang tidak ada teman ngobrol secara nyata, tapi Citra selalu bersenda gurau dengannya lewat telepon.

            Tidakkah kau merasa asing sendiri, Debora?

Sampai akhirnya aku panggil namamu…

“Deb…”
“Kita sadar ingin bersama ♫ ♪”

            Sial, pikirku. Kenapa syair tersebut harus terucap sesudah aku mengucapkan namanya?

“Ehmm, apa, Bill?”
“Kamu lihat sepatu itu?”
“Iya, kenapa?”
“Aku rindu mereka di dalam kotak”

Wajahmu terlihat bingung, seakan akan kamu mengiraku sebagai sales sepatu.

“Terus?”
“Bayangkanlah aku bagian kanan, kamu bagian kiri, dan…”
“Dan kotak itu adalah satu hati”

Aku dan kamu tiba tiba tersenyum, lalu tertawa. Greetha tertawa kecil dan dengan ceplosnya mengatakan,

“Ciee, ada kotak baru nih…”


“Kita dari yang berlima, menjadi tiga setengah sekarang.” Okky berkata sambil menatap Joshua yang masih senyum senyum saja bersama Citra.


Sejujurnya udah beberapa kali gue buat cerita bertema cinta cintaan begini, tapi ga berani share di blog. Takut jelek, ga romantis, dan siapa tau lu bisa dirujuk ke ICU gara gara bingung, 'ini hati gue berfungsi atau kagak, kok ga hanyut hanyut dalam cerita'. Habis gue.
Kalo ada kritik saran, komen dibawah aja. Soalnya ga ada yang pernah kirim gue email, kecuali dari spemer yang doyan kirim body.

Komentar

  1. Balasan
    1. Lagi latihan buat cerita fiksi. Kalo kepanjangan, bisa bisa keburu bosen kan. -alasan klise-

      Hapus
  2. Lucu nih cerita. Ngegemesin malah. *rujuk ke ICU*
    Btw, gue suka lagunya tulus yang sepatu. Asik banget. Analogi yang punya arti dalem. Iya nggak, sih? Iya dong. Iya kan? Iya lah. *maksa*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue juga suka lagunya. Alasannya sama! Hehehe. :D

      Hapus
  3. bener-bener cerita yang klise. Coba dikasih gambaran sedikit, entah itu latar tempat atau tohonya biar lebih keren lagi ceritanya. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini dia. Gue lagi latihan masaukkin latar tempat dan tokoh dengan cara berbeda. Doakan ku sukses! :)

      Hapus
  4. ini flas fiction?
    justru dengan di psting kita jadi tahu letak kekurangan tulisan kita.
    keep writing kak :)

    btw, salam kenal ya kak. aku juga bloger balam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emm, ga tau deh flash fiction atau apa. Ide nya keluar begitu aja, dan langsung ditulis deh. Hahaha.

      Wah, jarang jarang ada blogger Balam dateng kesini. :D

      Hapus

Posting Komentar

Sebelumnya terima kasih sudah membaca. Gue berharap kalian memberi komentar yang sopan. Ga harus sesuai EYD, kok. Yang pasti jangan pake bahasa 4L4Y, apalagi bahasa binary.

Yo'ciao~