Pha,

Untuk Phascolarctos Cinereus
Dimanapun kamu berada...

Hai, Pha.
Entah kenapa aku ingin sekali menulis ini untukmu. Aku memilih Blog ini, agar aku lebih leluasa berbicara denganmu. Mari, silahkan duduk. Akan ku buatkan susu dan membawa sekotak permen yupi untukmu.

Anggaplah sebagai rumah sendiri.


Duduklah dengan nyaman.
Mungkin kamu bertanya tanya, Pha, apa yang mau dibicarakan denganku. Sejujurnya, aku ingin terus bisa seperti ini. Duduk berdua denganmu di pinggir jendela, menikmati rintik rintik hujan dan memandangi cipratan airnya. Aku bersyukur hari ini, pak bos mengizinkanku mengambil waktu break lebih banyak.

Andaikan kita bisa seperti ini terus ya, Pha.
Berdua.
Tanpa ada yang mengganggu.
Tidak dipisahkan jarak dan waktu.

Hmm... andaikan adalah kata terindah, untukku.
Tahukah kamu, Pha, tidak ada yang bisa memecahkannya ketika aku berkata andaikan. Seakan akan imajinasiku berada di level tertinggi, saat menutup mata, mendengarkan musik, dan berbaring di kasur yang lembut. Dan yang sering aku andaikan...

Kamu.

Sehabis menonton bioskop, dan melihat keluar jendela disamping elevator, secara tidak sengaja hujan turun. Aku melihat wajahmu, penuh keraguan saat mau menantang hujan. Aku meyakinkan dirimu, aku memegang tanganmu erat. Tapi itu malah membuat wajahmu semakin ragu. 'Lelaki macam apa aku ini, Pha', renungku dalam hati.

Ting...

Pintu elevator terbuka, seakan akan menantang kita melawan hujan. Kamu tersenyum ragu, seakan akan mengatakan kebohongan basi wanita 'aku ga papa'. Aku masih memegang tanganmu, dingin rasanya. Cukup aneh, biasanya tanganmu selalu hangat. Sambil berjalan, aku melepas sweater biru abu abu yang kupakai dan menyodorkannya kepadamu.

"Pakailah, aku ga ingin tanganku kedinginan karena tanganmu."
"Kalau gitu, kenapa kamu tidak lepas saja tanganmu dariku?"
"Kalau saja dinginnya tidak seperti lem perekat, aku ingin melepasnya."
"Gombal, ih! :)"

Kamu mengambil sweaterku, namun menatapnya dengan malas campur kesal.

"Bau!"

Jujur saja, Pha, kamu adalah cewek terfrontal didepan pacar sendiri.

Pacar.
Aku mengandaikan waktu itu kita menejalin hubungan. Tidak apa kan, Pha? Aku berharap kamu menganggukkan kepala.

Sementara itu, silahkan kamu seruput susu yang sudah kubuat.

Lalu aku keluarkan parfum semprotku, dan menyemprotkannya di sekujur sweater.

"Feel better, right?"
"More better than before. Thank's sweetheart."

Kamu merangkulku, dan karena reflek tubuhku loyo, aku tak sengaja belabrak bahumu, sampai pipi kita saling bertemu. So sweet, so freak. Aku tersenyum saat menulis ini.

"Bil! makan siang, ayo! Nanti nasinya keburu dingin." teriak ibuku sambil mengetuk gemerisik yang keras.

Aku terbangun.
Dari imajinasiku.
Dan aku sadar.
Kenyataan bisa memecahkan pengandaian.

Rasanya sakit memang menghadapi kenyataan. Tapi harapan selalu ada. Itu yang membuatku bangkit setinggi tingginya. Dan jika aku terjatuh nanti, aku akan tergantung diantara bintang bintang.

Pha,
Aku ingin kau tahu
Aku ingin...

Ingin...
Pengandaian kita sama.
Dan kita membawanya ke dunia nyata.

Kalaupun tidak sama...
Aku hanya ingin kau tahu...
Aku masih menginginkannya.

Mungkin tulisanku hanya sampai sini ya, Pha. Sini, biar aku membawa gelasmu. Oh, dan mungkin kamu ingin membawa sekotak yupi itu. Aku tahu, kamu sangat menyukainya.

Bandar Lampung, 02 Juli 2014


Salam hangat, sayang teman
Gorilla gorilla



Bukan, ini bukan post curhat.
Emang lagi latihan aja buat cerita dengan struktur yang unik, hehe.
Anyway, gue sengaja publish ini larut larut 'coz ga pengen ganggu pembaca yang tahu gue biasanya nulis komedi malah berubah aliran. Lagian ini juga blog gue, suka suka gue. :p

Ada saran / masukkan, kirim aja lewat email (bisa dilihat di kiri layar monitor anda). Yo'ciaow!!